Posts

Tentang Keputusasaan

Akhirnya aku berpikir, bahwa titik nadir dari kealpaan harapan hidup, keresahan dan kegetiran paling ekstrem adalah, ketika kita menganggap bahwa orang lain biasa saja. Tak bernilai. Kosong. Nihil. Akhirnya aku merasa, betapa salahnya ketika seseorang menganggap bahwa dirinya sedang resah, papa dan gelisah, tapi masih mengindahkan makna dari orang lain, meskipun makna itu mewujud dalam nilai yang negatif: penolakan, dibenci, dicurangi, dikhianati, ditipu... Bagiku orang tersebut belum mencapai palung keputusasaan. Titik keputusasaan menurutku berarti, sudah tak ada nilai apapun yang mewarta dalam dunia. Sudah tak ada lagi hamparan makna. Sudah tak ada lagi arti yang merebah. Maksudku sudah tak ada nilai sama sekali! Nilai positif dan negatif tak bersisa. Semua sirna. Itulah titik keresahan dan keputusasaan yang paling dalam. Yang paling radikal. Yang paling mengkhawatirkan! Sayangnya, orang masih menganggap bahwa kegetiran karena diasingkan dan dilecehkan orang lain adalah keputus...

Tentang Kelesuan

Oleh: Raja Cahaya Kita mesti akhiri segala keriangan, segala pesta pora, dan harapan-harapan yang sedaritadi menari-nari di atas kepala kita. Karena kita harus sadar, bahwa secercah kepalsuan mulai menampak. Semburat warna merah yang meleleh di ujung cita kita, kini sedang menyongsong segala optimisme dan euforia yang kita elu-elu kan selama ini. Kita juga mesti akhiri, segala pesimisme yang memuakan, yang hanya mengulang-ulang derita, yang alih-alih membuat manusia bersedih, tapi ia malah membuat mereka nampak terbiasa. Di dunia ini tak ada apa-apa yang tersisa, kecuali puing-puing kesedihan dan ratapan. Tapi kesedihan dan ratapan itu bukan semacam pesimisme dari sang papa. Ia hanyalah wujud ekspresif dari sang penerima kehidupan, yang sebenarnya tak pernah menawarkan apa pun.

Catatan Tentang Capaian

Oleh: Raja Cahaya Capaian seseorang dalam beberapa hal bagi saya tidak cukup penting, karena capaian-capaian itu hanya mungkin hadir sebagai hasil dari relasi sosio-kultural yang bersifat determinatif. Bagi saya yang penting adalah upaya transendensi diri dalam jejaring determinan itu, dan juga komitmen diri untuk bersitegang dengannya. Menurutku itu yang paling penting, dan paling pantas untuk dinilai: momen yang paling tepat ketika sang tuan ingin membuka topi. Di luar penilaian itu, hanya ada ilusi.

Setelah itu...

Setelah itu... Ternyata semuanya belum selesai, keresahan masih hinggap di pikiranku. Mungkin aku salah karena menulis tulisan ini padamu, namun aku pun merasa bahwa aku harus menulis sesuatu, meskipun aku tidak tahu mengapa 'harus'. Tapi, baiklah aku akan coba menceritakan sesuatu. Sebenarnya setelah tulisan terakhir yang sempat aku kirimkan padamu, sampai saat ini aku merasa masih ada lubang atau mungkin celah yang masih bermukim di jeluk pikiranku. Seolah-olah ada semacam dorongan yang mengharuskanku untuk menyelesaikan sesuatu. Meskipun aku pun tak tahu, apa yang mesti aku selesaikan. Kesalahan yang pernah kulakukan menyisakan memori, ingatan dan jejak. Ketiga hal itu, hari ini, detik ini, selalu menggedor kepala meminta tanggung jawab, tapi hal-hal yang menghantui itu tak memberi petunjuk apa pun tentang hal yang mesti dilakukan. Mungkin aku terlampau dungu untuk menerjemahkan dan menerka pinta dari intuisi-pertanggungjawaban itu. Atau ia sengaja memberi simbol tanpa art...

Pidato Sang Nabi

Oleh: Raja Cahaya Tolong beri aku kesempatan untuk berkhotbah di sini. Untuk menyampaikan risalah dan wahyu tentang kabar baik bagi kalian. Jika para nabi hadir di dunia untuk menyampaikan kabar gembira dan buruk untuk orang-orang yang beriman, aku di sini akan menyebarkan pesan yang baik saja, pesan yang berfaedah, pesan yang layak dimaknai.  Sungguh berdosalah orang yang menganggap bahwa dunia ini tidak baik-baik saja. Sungguh kafirlah seorang manusia, yang yakin bahwa penindasan ada di mana-mana. Tidak kawan, penindasan tak pernah terjadi, kebiadaban tak pernah hadir, kerakusan disertai dengan nafsu rendah tak pernah dilahirkan. Semua kekejian dan kemalangan yang menimpa manusia, hanyalah paranoia akut dari orang-orang yang bermental cacat. Tanya saja, setiap mahluk yang diciptakan iblis itu. Coba, tanya satu persatu. Mereka pasti akan menjawab: “inilah surga dunia, inilah surga yang diceritakan oleh malaikat-malaikat itu, lihat sungai-sungai susu itu mengalir di m...

Orang-orang Tolol

Begitulah, menurutku terlalu banyak orang tolol yang bertebaran di dunia ini, yang sama sekali tak bisa mengendalikan emosinya. Orang-orang yang tunduk pada gejala psikologis yang sebenarnya hanya remah tai. Aku kasihan sebenarnya melihat orang-orang itu, yang sama sekali tak bisa menjadi tuan atas dirinya. Budak-budak itu, haduh, bagaimana aku mengatakannya ya, terlalu dungu! Mereka seolah bangga, bisa menunjukkan emosinya, begitu juga merasa digdaya. Padahal, mereka hanya menampakkan ketololan saja, kebodohan belaka. Ah tapi mana mereka ngerti petuah-petuah bijak. Sebenarnya aku bisa membunuh mereka satu persatu, tapi jika aku melakukan itu, maka aku tak berbeda dengan mereka. Sehingga satu-satunya jalan yang bisa kulakukan adalah, mengontrol diri, mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh golongan aristokrat Athena pada zaman dahulu. Cuma memang, apa yang kulakukan ini cukup sulit. Dan bagiku, tak mungkin dilakukan orang goblok . Orang goblok itu mirip keledai, mereka hanya tah...

Kosong

Oleh: Raja Cahaya Setidaknya ruh itu harus ada Aku memang bilang "harus", karena tubuhmu itu bau bangkai Sungguh menyengat... Kau hanya tau citra untuk tubuhmu, Tapi tubuhmu tak bagus-bagus juga, Kau tak sedang berusaha meraih rona tubuhmu yang cantik, tapi kau malah asyik melumpuri tubuhmu Tak ada wewangian, hanya bau Bau busuk, tapi kau malah menyalahkanku Kau bilang, aku terlalu menunut, aku tidak peka Astaga, kau jarang membawa cermin ternyata... Tolong lihat dirimu sendiri, Kau tak memiliki ruh! Duduklah kemari, aku akan pukul wajah pucatmu itu Agar kau bisa mengerti, bahwa tak ada apa-apa di baliknya, selain udara dan ruang hampa Nanti setelah kuhantam, aku yakin hanya akan ada ceceran dan kepingan abu 28 Januari 2019