Posts

Showing posts with the label Review

Setelah Membaca Sisi Manusiawi Iqbal

Oleh: Raja Cahaya Siapa yang tak tahu Muhammad Iqbal? Banyak orang saya kira tahu akan dirinya. Di tengah banyaknya pikiran yang ia telurka, ada satu pemikiran Iqbal yang sangat menggugah saya, yakni konsepnya tentang ego. Konsep ego ini ia pertentangkan dengan panteisme yang dianut oleh beberapa pemikir Islam, terkhusus yang dianut oleh beberapa sufi dunia tasawuf. Jika panteisme mereduksi ego-pribadi kepada Ego Tuhan, Iqbal justru menegaskan ego pribadi itu sendiri. Di hadapan Tuhan, kita bukannya harus menundukan ego atau kedirian kita, justru sebaliknya ego kita harus ditegaskan. Iqbal tentu sangat beralasan ketika menyodorkan konsep ini. Baginya, alasan mengapa umat Islam terpuruk--terkhusus pada zaman ketika Iqbal hidup, karena umat Islam kehilangan ego-pribadi. Ego itu tentu berkaitan dengan dorongan mencipta, kreasi, dan inovasi. Dan daya-daya itu merupakan usaha manusia untuk meniru Tuhan. Konsep mengenai diri ini, banyak terpapar di berbagai buku yang ia tulis, misalnya di ...

Setelah Membaca Roger Simon, Gagasan-Gagasan Politik Gramsci

Oleh: Raja Cahaya Kemarin saya baru saja menyelesaikan buku Roger Simon, Gagasan-Gagasan Politik Gramsci. Saya sendiri sebenarnya bukan orang yang fokus pada kajian Marxisme, tapi entah mengapa saat saya bertemu pertama kali dengan buku itu, saya tiba-tiba ingin membelinya. Tapi, buku itu tak langsung saya baca, mungkin sekitar 1-2 tahun kemudian, barulah saya membuka buku itu, dan berniat untuk menyelesaikannya. Alasan saya untuk menyelesaikan buku itu sederhana sebenarnya: saya kasihan terhadap buku itu, ia belum pernah disentuh lagi setelah beberapa tahun. Saya mengetahui Gramsci pertama kali, dari kakak kelas saya di kampus. Dan konsep yang saya kenali pertama kali adalah: hegemoni. Saya begitu terkesan mendengar kata itu, karena saya langsung ingat tentang strategi politik. Meskipun kakak kelas saya tidak membahas konsep hegemoni dengan dalam karena keterbatasan waktu. Setelah itu, saya pun bertemu Gramsci di buku Romo Franz Magnis Suseno, Dalam Bayang-Bayang Lenin. Yang sekaran...

Setelah Membaca Lukisan Dorian Gray

Oleh: Raja Cahaya Kemarin saya baru menyelesaikan novel Lukisan Dorian Gray karya Oscar Wilde. Jujur, novel itu begitu menawan, apalagi bagi para penggemar cerita tragis seperti saya. Saking menawannya novel itu, saya jadi ingin menuliskan ulasannya di sini. Ya, setelah sekian lama tidak menulis apapun di facebook, akhirnya saya jadi terdorong menulis karena novel itu. Jadi inilah: • Wilde bercerita tentang seorang pria muda bernama Dorian Gray. Ia digambarkan memiliki paras yang sangat rupawan. Namun, ia mulanya tak begitu menyadari ketampanannya itu, sampai suatu ketika ia dilukis oleh seorang sahabatnya yang bernama Basil Hallward. Ketika ia melihat potret lukisan dirinya, Dorian pun terpesona oleh wajahnya sendiri. Lalu ditambah oleh pendapat-pendapat dari Lord Henry--sang sahabatnya yang lain--yang memuji dirinya sekaligus bilang bahwa ketampanan fisik merupakan anugrah yang tak boleh disia-siakan, maka makin gila lah Dorian atas ketampanan dirinya. Ia pun berdoa agar keta...

Jadi Apa Itu Cinta? Tentang Mencari Cinta Spiritual (Refleksi Pertemuan Terakhir di kelas Filsafat Cinta) [1]

Oleh: Raja Cahaya Akhirnya kita berlabuh di cinta spiritual, sebagai ujung pencarian kita sekaligus sebagai tujuan akhir dari ziarah pengembaraan kita, di gurun pasir keremang-remangan akan makna cinta. Dengan titik ini kita pun wajib untuk menanggalkan satu-persatu tiap hiasan-hiasan yang berkaitan dengan ‘keakuan’. Kehadiran ego itu sebenarnya sedikit mengancam eksistensi cinta spiritual. Sehingga kita harus pasrah di hadapan cinta spiritual yang agung itu. Keagungan cinta itu dicirikan oleh sisi misterius dari cinta. Namun tentang mengapa kita harus meleburkan ego terlebih dahulu, saya perlu menjelaskan beberapa hal. ”Semakin cinta dijelaskan, itu bukanlah cinta” kurang lebih itulah ungakapan Bang Al di pertemuan terakhir, ungkapan itu cukup senada dengan syair Rumi yang terkenal itu. Dalam pertimbangan lain, kita bisa mengatakan dengan nada yang sama, bahwa semakin kita menjerat cinta dengan jaring-jaring kuriositas kita tentangnya, ia semakin licin, ia semakin menggelia...

Gumpalan Review Kedua: Cinta Mau Dibawa Kemana?[1]

Oleh: Raja Cahaya Setiap orang mungkin pernah merasakan cinta, karena hal tersebut merupakan pengalaman yang sangat manusiawi. Meskipun tentu saja kadar kualitas cinta pun berbeda-beda, seturut perjalanan hidup seseorang. Kualitas itu ditentukan oleh pengalaman, sehingga sangat masuk akal jika kita menyebutkan bahwa anak kecil dan orang dewasa memiliki bentuk cinta yang sangat berbeda. Seorang anak tentu belum begitu paham apa yang disebut dengan cinta spiritual, karena dunianya pun masih terbatas di lingkup material. Ia hanya mengenal cinta, sejauh ia fisikal saja. Lama kelamaan, seturut perkembangan tubuh dan juga pengalaman, akhirnya horizon pengetahuan si anak kecil pun berkembang, dari taraf fisikal yang sederhana, menuju taraf abstrak, yakni ketika ia dewasa. Pengalaman pun tentu meluas, ia mulai merambah ranah non-fisikal. Di mana si orang ini mulai tersibak wawasannya, hingga ia bisa 'menatap' dan merasakan kehadiran yang-non-fisikal. Cinta pun tak terbatas pa...

Review Pertemuan Pertama: Cinta yang Menaik dan Cinta yang Mandeg[1]

Oleh: Raja Cahaya Ada suatu hal yang paling menarik di dalam diri manusia, salah satunya adalah aktifitasnya dalam merenungi kehidupan. Salah satu akses manusia untuk bercumbu dengan realitas ialah aktifitas berpikirnya. Dengan berpikir, ia mencoba menyibak segala tirai yang menyelubungi realitas. Pikiran itu bak tangan seseorang yang menggeser tirai di jendela. Namun, pertanyaan yang muncul ialah, apakah pikiran itu benar-benar mampu menembus tirai realitas? Jangan-jangan pikiran itu bukannya membuka tirai, tapi malah sebaliknya, malah menutup realitas, malah menambah tirai, sehingga kita tak pernah bisa menyentuh inti realitas.  Sebenarnya, ada suatu hal yang melandasi aktifitas berpikir kita, hal tersebut adalah aktifitas penafsiran. Meskipun memang betul, aktifitas penafsiran itu beriringan dengan aktifitas berpikir, hanya saja persoalannya tak sesederhana itu. Terdapat kompleksitas tersendiri di dalamnya. Rupanya—jika kita mencoba menghadirkan perspektif hermeneutik...